Jumat, 17 Desember 2010
Racun Rokok
Asap tembakau yang mengandung ratusan bahan kimia beracun dapat langsung menimbulkan kerusakan organ tubuh. Dalam studi terbaru ahli bedah menemukan tidak ada tingkat aman seseorang terkena paparan asap rokok, baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif.
Ini karena asap rokok langsung merembes ke dalam aliran darah mengubah kimiawi organ sehingga menggumpal dan menekan arteri. Akibatnya arteri menyempit dan tertutup. Laporan tersebut juga menemukan bahkan paparan asap rokok dalam waktu singkat pun dapat memicu serangan jantung.
"Saya menyarankan orang untuk mencoba untuk menghindari berada di sekitar merokok cara apapun yang Anda bisa," kata Dr Regina Benjamin yang menjadi penasehat medis Presiden Obama.
Namun, bagi Anda yang ingin berhenti merokok, tidak ada kata terlambat. Mulailah sekarang juga! Sebab, dalam laporan juga dijelaskan apa yang terjadi dalam tubuh ketika seseorang berhenti merokok
- 20 menit: tekanan darah dan laju nadi kembali normal
- 8 jam: kadar Nikotin dan karbon monoksida dalam darah berkurang setengah dan oksigen kembali normal.
- 24 jam: Karbon monoksida akan hilang dari tubuh. Paru-paru mulai menghilangkan lendir dan kototran akibat rokok lainnya.
- 48 jam: Tubuh membersihkan nikotin dari tubuh. Kemampuan indera merasakan bau dan rasa meningkat
- 72 jam: Bernapas menjadi lebih mudah. Tabung bronkial mulai rileks dan meningkatkan kadar energi.
- 2-12 minggu: sirkulasi darah membaik.
- 3-9 bulan: Batuk, dan masalah pernapasan meningkat seiring membaiknya fungsi paru-paru hingga 10 persen
- 5 tahun: Risiko serangan jantung turun menjadi sekitar setengah dibandingkan para perokok.
- 10 tahun: Risiko kanker paru-paru setengahnya dari para perokok. Risikonya berubah menjadi sama dengan para non perokok.
Rabu, 08 Desember 2010
Non Sexual Multiple relations

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang therapist tidak mungkin tidak berhubungan dengan orang lain. sebagai manusia, therapist pun merupakan mahluk sosial yang senantiasa menjalin relasi dengan manusia lainnya. hanya, dalam hal etika, saat therpist berperan sebagai seorang therapist, maka etika sebagai therapist tentunya harus ia tegakan. menjalankan etika profesinya sebagai seorang therapist dilakukan dalam rangka menghindari permasalahan etika yang mungkin akan muncul di kemudian hari. memang, mudah untuk dibicarakan, diucapkan, akan tetapi belum tentu mudah untuk dilaksanakan.
adapun hal-hal yang dapat menghambat dalam melakukan tugasnya sebagai seorang therapist yang menjunjung etika profesi adalah hal-hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi juga masalah profesional itu sendiri. apabila, menjalin relasi di luar hubungan therapist dengan klien pada saat orang tersebut masih menjadi klien, maka permasalahan yang akan muncul adalah:
1. Bentuk hubungan menjadi hubungan KOMPROMISTIS
2. Menimbulkan CONFLICT of INTEREST
3. Mempengaruhi peran KOGNITIF dalam terapi
4. Membentuk KETIDAKSETARAAN hingga di luar terapi
5. Mengubah MAKNA PSIKOTERAPI itu sendiri
6. Menimbulkan MASALAH HUKUM
7. Melanggar ETIKA PROFESI
toleransi-toleransi terhadap hubungan tersebut merupakan pelanggaran terhadap etika. dengan alasan apapun juga, seorang therapist, lebih baik menghindari terlebih dahulu menjalin relasi lebih dengan klien diluar hubungan antara therapist - klien. sebenarnya, kalau dipikir lebih matang, apa sih yang menjadi bahan pertimbangan mengapa hubungan antara therapis - klien selama proses therapy berlangsung sebaiknya dihindari?? adapun beberapa pertimbangan yang dapat menjadi bahan acuan adalah:
1. SELECTIVE INATTENTION: menimbulkan NEGLIGENCE
2. BENEFICIAL? Untuk pasien ataukah untuk terapisnya?
3. PREVALENSI ~ Legitimasi / pembenaran sekelompok orang
4. TRADISI ~ haruskah menggugurkan etika profesi?
5. OTONOMI ~otonomi klien terabaikan krn di bawah pengaruh terapis
6. “NECESSITY” ~ terapis tak punya pilihan ~> ketidak-berdayaan
Selasa, 07 Desember 2010
Sexual Relationship

Menjadi therapist bukan berarti memiliki kekuatan/power yang dapat membuat klien tunduk kepada sang therapist. akan tetapi, kedudukan antara therapist dengan klien adalah sejajar. dalam menjalin relasi dengan klien, terdapat beberapa hal yang dapat membuat sang therapist "tergelincir" saat menangani kliennya. salah satu hal yang dapat dan mungkin terjadi adalah melakukan hubungan seksual dengan klien.
memang, di Indonesia, data mengenai berapa banyak therapist yang melakukan hubungan seksual dengan klien tidak/belum ada. akan tetapi, bukan berarti tidak ada. mungkin ada, hanya tidak sampai dilaporkan kepada yang berwajib. hingga saat ini yang sering kali diungkap di media massa adalah perbuatan "dukun cabul", belum ada therapist cabul.
terlepas dari ada atau tidak ada ataupun belum ada, ada baiknya, kita menjaga diri agar sebagai seorang therapist nanti tidak sampai melakukan perbuatan yang dapat merugikan klien. selain merugikan klien juga mempertaruhkan nama baik sebagai therapist.
adapun dampak yang akan terjadi bila akhirnya terjadi hubungan seksual antara therapist dengan klien adalah:
- ambivalence
- guilt
- emptiness
- isolation
- sexual confusion
- impaired ability to trust
- confused role and boundaries
- emotional lability
- suppressed rage
- cognitive dysfunction
- incerase suicidal risk
kegiatan ataupun perilaku hubungan seksual dalam hubungan therapy tersebut umumnya dapat terjadi karena beberapa hal. sehingga beberapa hal di bawah ini tidak dapat lagi dipakai sebagai acuan untuk pembelaan diri apabila sang Therapist dibawa ke majelis etika psikologi. alasan yang umum diungkapkan adalah:
- role trading
- sex therapy
- as if
- svengali -dependency
- drugs
- true love
- time out
- got out of hand
- hold me
- rape
- fundamental prohibition
- slipery slopes
- consistent communication
- clarification
- patient's welfare
- consent
- empathize
- competence
- uncharacteristic behavior
- consultation
Assessment

Dalam dunia psikologi, assessment merupakan salah satu pekerjaan yang dilakukan oleh para psikolog maupun ilmuwan psikologi (s1). hanya, terkadang, di dalam melakukan pekerjaannya, apakah para psikolog maupun ilmuwan psikologi sudah menerapkan etika dalam pelaksanaanya?
mengapa etika mejadi penting? karena dengan mengamalkan etika dalam melakukan assessment, maka masyarakat yang memakai jasa psikolog menjadi terbantu. para pengguna jasa tidak mengalami mal praktek yang dilakukan oleh para psikolog maupun ilmuwan psikologi. salah satu hal mendasar adalah salah memberikan diagnosa. kesalahan memberi diagnosa, akan berakibat pada salah memberikan treatment. sesuatu hal yang terlihat menyeramkan bukan. memang terdengar sederhana, namun rasanya, tanpa menerapkan etika yang benar, maka masyarakat pun akan menjadi korbannya.
isi materi Assessment
1. Improper diagnoses may deprive clients of appropriate treatment
2. Testing & diagnosing must be based on standards
3. Professionals must have competency in conducting evaluation
4. Competency must be developed through formal education, training & experience
5. Competency includes understanding measurement, validation & inferences
6. Clients have rights to know the purpose of evaluation
7. Professionals must ensure appropriate explanations
8. Professionals must adequately know who will receive the results
standar prosedur assessment:
1. situation,
2. format,
3. administration,
4. instruction,
5. language,
6. content,
7. validation
Yang perlu diperhatikan (awareness)
1. School of Disciplines
2. Personal Factors
3. Financial Factors
4. Forensic Issues
5. Medical Causes
6. past history
7. Reliability/ Validity
8. Adequate Feedback:
8.a. unrealistic demands
8.b. rush judgement
8.c. bad judgement
Pelatihan dan Seminar 2011
15, 22, 29 January 2011 (8 a.m. to 5 p.m.)
Investation Fee: Rp750.000,00 (Students - Master degree)
Rp1.000.000,00 (Alumni - Professional degree)
Rp1.500.000,00 (Public - Psychologist)
CBT for Adults (Henny E. Wirawan, M. Hum., QIA, Psi., Psikoterapis - certified)
12, 25, 26 February, and 5 March 2011 (8 a.m. to 5 p.m.)
Investation fee: Rp1.200.000,00 (Students - Master Degree)
Rp1.800.000,00 (Alumni - Professional Degree)
Rp2.500.000,00 (Public - Psychologist)
special price before 31st December 2010 --> Rp1.000.000,00 (students) and Rp1.500.000,00 (Alumni)
Panel Discussion about Early Childhood Education (Prof. DR. Ediastri Toto Atmodiwirjo, psi., DR. Soemiarti Patmonodewo, psi., Niken Widiastuti, M. Si., psi.)
19 February 2011 9 a.m. to 12 noon
Investation fee: Rp100.000,00 (students)
Rp200.000,00 (Public)
Half day with Down Syndrome's Children
26 February 2011, 9 a.m. to 12 noon
DR. Ediastri Toto Atmodiwirjo, psi
Dr. Monty P Satiadarma, MS/AT,MCP/MFCC., DCh., Psi
(first announcement, be ready for the next information!!!! You won't regret this event!)
Investation fee : Rp. 25.000 (Students)
Rp. 50.000 ( Public)
Forgiveness Therapy (Meiske Y. Suparman, M. Psi.)
12 March 2011, 9 a.m. to 4 p. m.
Investation fee: Rp200.000,00 (students)
Rp300.000,00 (alumni)
Rp400.000,00 (public)
Public Speaking Training (Henny E. Wirawan, M. Hum., QIA, Psi., Psikoterapis)
26 March 2011, 9 a.m. to 5 p.m.
Investation fee: Rp250.000,00 (students)
Rp350.000,00 (Alumni)
Rp450.000,00 (Public)
Another special event: 2 days HYPNOTHERAPY Training with DR. Monty P. Satiadarma, MS/AT, MCP/MFCC, DCH, psi.
Investation fee: Rp2.000.000,00 (Students), limited for 10 students only
Rp3.000.000,00 (Alumni)
Rp4.000.000,00 (Public)
be ready for the next information!!
For further informations please contact the Faculty Secretariat at 021-566-1334 (Ms. Ami)
Rabu, 17 November 2010
little albert
The participant in the experiment was a child that Watson and Raynor called "Albert B.", but is known popularly today as Little Albert. Around the age of nine months, Watson and Raynor exposed the child to a series of stimuli including a white rat, a rabbit, a monkey, masks and burning newspapers and observed the boy's reactions. The boy initially showed no fear of any of the objects he was shown.
The next time Albert was exposed the rat, Watson made a loud noise by hitting a metal pipe with a hammer. Naturally, the child began to cry after hearing the loud noise. After repeatedly pairing the white rat with the loud noise, Albert began to cry simply after seeing the rat.
Watson and Raynor wrote:
"The instant the rat was shown, the baby began to cry. Almost instantly he turned sharply to the left, fell over on [his] left side, raised himself on all fours and began to crawl away so rapidly that he was caught with difficulty before reaching the edge of the table."
Elements of Classical Conditioning in the Little Albert Experiment
The Little Albert experiment presents and example of how classical conditioning can be used to condition an emotional response.
• Neutral Stimulus: The white rat
• Unconditioned Stimulus: The loud noise
In classical conditioning, the unconditioned stimulus is one that unconditionally, naturally, and automatically triggers a response. For example, when you smell one of your favorite foods, you may immediately feel very hungry. In this example, the smell of the food is the unconditioned stimulus.
• Unconditioned Response: Fear
In classical conditioning, the unconditioned response is the unlearned response that occurs naturally in response to the unconditioned stimulus. For example, if the smell of food is the unconditioned stimulus, the feeling of hunger in response to the smell of food is the unconditioned response.
• Conditioned Stimulus: The white rat
In classical conditioning, the conditioned stimulus is previously neutral stimulus that, after becoming associated with the unconditioned stimulus, eventually comes to trigger a conditioned response.
• For example, suppose that the smell of food is an unconditioned stimulus and a feeling of hunger is the unconditioned response. Now, imagine that when you smelled your favorite food, you also heard the sound of a whistle. While the whistle is unrelated to the smell of the food, if the sound of the whistle was paired multiple times with the smell, the sound would eventually trigger the conditioned response. In this case, the sound of the whistle is the conditioned stimulus.
• Conditioned Response: Fear
In classical conditioning, the conditioned response is the learned response to the previously neutral stimulus. For example, let's suppose that the smell of food is an unconditioned stimulus, a feeling of hunger in response the the smell is a unconditioned response, and a the sound of a whistle is the conditioned stimulus. The conditioned response would be feeling hungry when you heard the sound of the whistle.
Stimulus Generalization in the Little Albert Experiment
In addition to demonstrating that emotional responses could be conditioned in humans, Watson and Raynor also observed that stimulus generalization had occurred. After conditioning, Albert feared not just the white rat, but a wide variety of similar white objects as well. His fear included other furry objects including Raynor's fur coat and Watson wearing a Santa Claus beard.
Criticisms of the Little Albert Experiment
While the experiment is one of psychology's most famous and is included in nearly every introductory psychology course, it has also been criticized widely for several reasons. First, the experimental design and process was not carefully constructed. Watson and Raynor did not develop an object means to evaluate Albert's reactions, instead relying on their own subjective interpretations. Secondly, the experiment also raises many ethical concerns. The Little Albert experiment could not be conducted by today's standards because it would be unethical.
What Ever Happened to Little Albert?
The question of what happened to Little Albert has long been one of psychology's mysteries. Watson and Raynor were unable to attempt to eliminate the boy's conditioned fear because he moved with his mother shortly after the experiment ended. Some envisioned the boy growing into a man with a strange phobia of white, furry objects.
Recently, however, the true identity and fate of the boy known as Little Albert was discovered. As reported in American Psychologist, a seven-year search led by psychologist Hall P. Beck led to the discovery. After tracking down the location of the original experiments and the real identity of the boy's mother, it was discovered that Little Albert was actually a boy named Douglas Merritte.
The story does not have a happy ending, however. Douglas died at the age of six on May 10, 1925 of hydrocephalus, a build-up of fluid in his brain. "Our search of seven years was longer than the little boy’s life," Beck wrote of the discovery.
References:
Beck, H. P., Levinson, S., & Irons, G. (2009). Finding little Albert: A journey to John B. Watson’s infant laboratory. American Psychologist, Vol 64(7), 605-614.
Watson, John B. & Rayner, Rosalie. (1920). Conditioned emotional reactions. Journal of Experimental Psychology, 3, 1-14.
Minggu, 07 November 2010
Fashion Show
Pengalaman pertama menjadi model bagi Miko, anak kesayangan saya merupakan sesuatu hal berharga yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup. Acara yang diselenggarakan di salah satu mal di Jakarta ini, berawal dari undangan salah seorang teman yang mengajak Miko untuk turut menjadi model. Awalnya saya pikir, ya model-modelan, sehingga saya mengijinkan anak tersebut ikut serta. ternyata acaranya bukan acara sembarangan. acara yang juga dihadiri banyak public figure tersebut merupakan suatu kejutan tersendiri buat saya. Acara yang juga diberi judul Jakarta Fashion Week tersebutlah Miko berlenggok di atas panggung.
Dengan memakai baju-baju dari Bubble Girl, ia berjalan. Baju-baju dengan tema Christmas, Chinese New Year & Spring/Summer 2011 Miko dan teman-temanya bergerak dari ujung yang satu ke ujung yang lain.
hmmm... seru sekali acara tersebut, terlebih lagi, bahan dari baju rancangan salah satu perancang terkemuka di Indonesia,yaitu Sebastian Gunawan, menjadikan baju-baju yang diprosuksi oleh Bubble Girl layak untuk dipakai. kelembutan bahan baju, detail rancangan serta motif yang menawan menjadikan suatu nilai lebih dari produk-produk tersebut.